Aku masih tetap disini. Duduk di dalam area sebuah pemakaman keluarga, diatas sebuah keramik biru, ditemani dengan angin yang bertiup perlahan, serta suara daun-daun yang saling bergesekan. Melihat sebuah makam tanpa nama. Tetapi aku tahu siapa yang sedang tidur di dalam sana. Dialah ayahku, seseorang yang telah pergi meninggalkanku 9 tahun lalu.
Setelah beberapa menit ku melihat makam tanpa nama itu, tak terasa air mataku menetes membasahi pipi. Tiba-tiba pikiranku melayang jauh, ku teringat akan malam itu. Malam terakhir bagi ayahku untuk melihat dunia yang indah ini, sebelum akhirnya ia pergi meninggalkanku, ibuku, dan kedua adikku.
***
***
Malam itu tidak seperti malam-malam biasanya. Entah mengapa di malam itu aku sangat ingin sekali menunggu ayah pulang, padahal biasanya aku selalu tidur terlebih dahulu bersama kedua adikku. Walaupun sebenarnya aku memang sudah merasa ngantuk dan ingin segera tidur. Apalagi saat melihat adikku tidur dengan pulas di kamarnya. Tapi keinginanku untuk menunggu ayah lebih kuat.
Dan saat ayah datang, aku senang sekali, apalagi saat ayah mengajakku untuk tidur bersama dengannya, dengan ibu, dan dengan kedua adikku yang bisa dibilang masih kecil.
“Assalamialaikum” sapa ayah saat masuk rumah dengan memasukkan sepada motor kesayangnya.
“waalaikumsalam” jawabku dan ibu dengan bersamaan. Akupun langsung menghampiri ayah dan memeluknya.
“Aku kangen sama ayah. Ayah gak kangen sama aku?” tanyaku polos.
“Udah kak, jangan ganggu ayah dulu, ayahkan masih capek baru pulang” sela ibu.
“Nggak papa bu, lho kakak kok belum tidur?” jawab ayah sambil meletakkanku diatas pangkuannya.
“belum yah, aku mau nungguin ayah pulang. Kan aku tadi udah bilang, aku kangen ayah. Ayah nggak kangen aku?” tanyaku.
“Iyaa, ayah juga kangen sama kakak. Ini ayah bawa oleh-oleh buat kakak, bakso kesukaan kakak. Ayo kita makan bersama” jawab ayah
“Ayo ayo yah” jawabku senang. Mendengar ajakan ayah itu rasa kantukku seketika langsung hilang. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB.
“eh, kakak, sekarang sudah jam segini lho. Besok kan masuk sekolah” kata ibu.
“Udah nggak papa bu, sekali-sekali” bela ayah.
“Ayah ini, jangan terlalu memanjakan anak, ngg`k baik lho” jawab ibu. Namun ayah tidak menghiraukan kata-kata ibu. Ibu pun tidak bisa berbuat apa apa. Ia langsung menyiapkan tiga mangkuk untuk tempat makan bakso.
Setelah selesai makan bakso, ibu langsung menyuruhku untuk segera tidur. Dan tiba-tiba ayah berkata “Gimana kalau malam ini kita tidur bersama?”.
“Ayo yah, sama adik Lala dan adik Iam ya yah” jawabku spontan. Ibu pun juga setuju dengan ajakan ayah itu “iya, sekarang biar ibu tata dulu kamarnya yaa”
“Iya iya,nanti biar ayah yang pindahin adik-adik” jawab ayah.
Aku merasa sangat senang sekali malam itu. Setelah ayah memindah adik-adik dari kamar mereka menuju kamar ayah dan ibu, kami pun tidur bersama. Disaat itulah aku merasakan suatu kehangatan sebuah keluarga yang utuh, tanpa kurang suatu apapun. Dengan berteman sinar rembulan yang masuk melalui fentilasi yang ada di kamar, kami semua tidur dengan sangat nyaman. Aku sangat menyukai malam ini. Ini benar-benar malam terindahku.
Dalam tidurku aku bermimpi. Mimpi yang sangat aneh menurutku. Di mimpi itu, aku sedang pergi ke kamar mandi. Dan pada saat aku keluar dari kamar mandi, ayah sedang menungguku. Saat itu entah mengapa ayah langsung memajukan tangannya ke depan mukaku seperti menyuruhku untuk mencium tangannya. Aku pun langsung menerima tangannya. Dan pada saat aku mencium tangan ayah, ayah membelai rambutku dengan sangat lembut dan memelukku. Aku merasa sangat nyaman dipelukan ayah. Namun, sdmua mimpi itu seketika hilang saat aku mendengar suara teriakan ibu.
“Bu Oviiiii……… pak Andiiiiiiiiiiiii…………..”teriak ibu memanggil nama tetangga sebelah rumah kami yang sudah kami anggap sebagai saudara kami sendiri.
Mendengar suara itu, bu Ovi dan pak andi langsung datang. Aku dan kedua adikku pun juga langsung terbangun dari tidur kami.
“Ada apa bu?” tanya bu Ovi. Namun bu Ovi tidak mendapat jawaban apa-apa dari ibu. Ibu hanya menangis di depan ayah yang sedang tertidur pulas. Sebenarnya tidak hanya bu Ovi yang merasa kebingungan, aku juga merasa seperti itu dan aku juga yakin pasti kedua adikku juga merasakan hal yang sama. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?. Mengapa ayah tidak terbangun saat mendengar suara teriakan ibu yang sangat keras itu?.
Melihat sikap ibu itu, pak Andi langsung mendekatkan jarinya ke hidung ayah dan memegang pergelangan tangan ayah.
Dan tidak lama kemudian ia berkata “Innalillahi wainnailaihi roji’un”.
Saat mendengar kata-kata itu, aku dan kedua adikku masih tetap belum mengerti apa yang sedang terjadi. Aku hanya mengerti bahwa kata-kata seperti itu diucapkan apabila ada orang yang meninggal dunia. Dan aku pun langsung menghampiri ibu dan bertanya apa yang sebenarnya telah terjadi?. Namun ibu tetap tidak menjawab. Ia hanya menangis. Melihat ibu menangis, aku dan kedua adikku juga ikut menangis. Walaupun pada saat itu kami masih belum yakin dengan dugaan kami. Apa ayah sudah meninggal dunia?.
Setelah ibu sudah bisa mengendalikan emosinya, ibu mulai menjelaskan padaku, hanya padaku. Karena jika ibu menjelaskan kepada kedua adikku, mereka pasti juga tidak akan mengerti, karena memang mereka masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Walaupun sebenarnya aku juga masih bisa dibilang sebagai anak kecil waktu itu, tapi setidaknya akulah anak pertama dalam keluarga ini. Ibu mencoba menjelaskan secara perlahan padaku bahwa memang banar ayah sudah meninggal, karena mungkin ia tahu kalau aku pasti akan sulit untuk menerima semua kenyataan ini. Mendengar penjelasan ibu, aku langsung menangis. Aku tidak bisa membayangkan bagimana hidupku tanpa ayah. Orang yang selama ini sangat dekat dengan ku, orang yang selama ini menjadi panutanku, dan orang yang selama ini selalu ku banggakan. Dan aku tahu pasti ibu juga merasa kehilangan daripada aku. Aku sangat bangga pada ibu, pada keadaan yang seperti ini, ia masih bisa tegar, masih bisa tersenyum, walau aku tahu di dalam hatinya ia juga menangis seperti ku.
Ternyata malam yang pada awalnya ku anggap sebagai malam terindahku, adalah malam terburukku. Malam itu merupakan malam terakhirku untuk bertemu ayah. Malam terakhirku untuk berbincang-bincang dengan ayah, untuk bergurau dengan ayah, dan untuk merasakan kehangatan suatu keluarga secara utuh. Dan mulai saat ini aku tidak akan pernah merasakan hal-hal seperti itu lagi.
Pada awalnya, aku tidak bisa menerima kepergian ayah. Mengapa ayah harus pergi begitu cepat?. Mengapa ayah harus pergi saat aku masih kecil?. Mengapa????. Berbagai pertanyaan muncul dalam otakku. Dan saat kutanyakan semua itu pada ibu, ia menjawab “Kakak, kenapa sih Allah kok memanggil ayah begitu cepat?. Itu karena Allah sayang sama ayah buktinya ia sudah nggak ingin ayah merasakan sakit, marasakan marah, dan merasakan lapar. Dan mengapa Allah mengambil ayah sekarang saat kakak masih kecil?. Itu karena Allah percaya sama kakak, percaya sama ibu, dan percaya sama adik-adik kalau kita semua akan bisa hidup tanpa ayah”. Mendengar semua penjelasan ibu itu aku merasa sedikit lebih tenang dan mulai bisa menerima kepergian ayah yang begitu tiba-tiba itu.
Dan secara tidak sengaja, aku teringat akan mimpiku malam itu. Apakah mimpi itu ada hubungannya dengan semua ini?. Aku sendiri juga tidak mengerti. Biarlah itu menjadi rahasiaku bersama-Nya.
Beberepa hari setelah ayah meninggal, ibu memutuskan untuk pindah rumah ke Malang, rumah nenekku yang merupakan orangtua ibuku. Dan di kota itulah, mulai ku buka lagi lembaran-lembaran cerita hidupku, bersama ibu, dan kedua adikku. Ya. tanpa seorang ayah.
***
Setelah cukup lama pikiranku melayang jauh entah kemana, tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara yang sudah tak asing lagi di telingaku, yang sekaligus juga telah membuyarkan semua lamunanku. Itu suara ibu, seseorang yang sangat berarti dalam hidupku, apalagi setelah kepergian ayah.
Dan ternyata ibu datang untuk mengingatkanku bahwa hari sudah sore dan kita harus segera pulang. Mendengar teguran ibu, aku langsung beranjak pergi meninggalkan area pemakaman milik keluarga ayah itu. Tetapi sebelum aku benar-benar meninggalkan tempat itu, ibu berpesan agar aku tidak pernah lupa untuk mendoakan ayah. Supaya ia tenang disana, dan mendapat tempat yang layak disisi-Nya.
“Tenang saja bu.aku tidak akan lupa untuk selalu berdoa buat ayah. Karena aku sangat menyayanginya dan akan selalu menyayanginya.” kataku dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar